Latar Belakang

Situasi krisis di berbagai sektor akhir-akhir ini menyebabkan jumlah anak-anak jalanan di Jakarta (usia 6 sampai 18 tahun) semakin meningkat, apalagi dipicu dengan kenaikan BBM menyebabkan orang tua mereka makin kesulitan dalam mencari nafkah. Apabila sebelum krisis, sebagian anak-anak yang orang tuanya berprofesi sebagai pemulung, pedagang sayur dan profesi-profesi lainnya, masih mampu hidup dalam lingkungan yang normal, masih dapat bersekolah dan bermain dengan anak-anak sebaya mereka, tetapi pada saat ini banyak dari mereka yang putus sekolah dan harus merelakan waktu bermainnya untuk mencari nafkah.

 

Umumnya, aktivitas mereka sekarang adalah sebagai pemulung (membantu orang tua mereka yang juga pemulung), menjadi pengemis pada lampu merah di perempatan jalan raya atau berkeliaran bebas di pasar-pasar dan tempat-tempat keramaian lainnya. Anak-anak ini dilepaskan begitu saja oleh orang tua mereka serta kurangnya perhatian dari orang tua menjadikan mereka seperti yang biasa kita sebut dengan “anak jalanan”. Bermula dari diskusi para alumnus STM TELKOM SANDHYPUTRA MALANG di forum komunikasi WIKUSAMA (Maillist WIKUSAMA), dan berangkat dari rasa ingin berbagi serta keinginan yang tulus untuk turut berkiprah dalam bidang sosial kemasyarakatan, maka dihasilkanlah kesepakatan untuk membentuk sebuah wadah bagi para alumnus tersebut guna menyalurkan sebagian penghasilannya serta membantu masyarakat yang termarginalkan dari sisi ekonomi.

 

Bermodalkan informasi dari majalah UMMAT yang mengulas tentang perlunya pembinaan anak jalanan di daerah Bongkaran Tanah Abang Jakarta Pusat dan dengan dibidani oleh empat orang aktivisnya yaitu Zahrotul Jannah, Nur Setyowati, Yanuar Al Fanul, Agus Susanto disertai beberapa rekan yang lainnnya meluangkan waktu untuk melakukan survey lokasi yang ada di Bongkaran, Tanah Abang.

 

Dari hasil investigasi di lapangan, dapat diidentifikasi beberapa masalah yang dihadapi kelompok anak-anak ini, yaitu :

  1. Tidak mampu atau putus sekolah karena orang tua yang tidak sanggup lagi membiayai sekolah anaknya

  2. Adanya eksploitasi orang tua terhadap anak mereka untuk membantu kesulitan ekonomi keluarga.

  3. Tidak memiliki pekerjaan tetap, sebagai akibat dari tidak adanya keterampilan yang dapat digunakan sebagai penopang hidup dan tidak mempunyai modal untuk membuka usaha.

  4. Kurang memperhatikan kesehatan, hidup tidak lagi teratur dan berada di lingkungan yang tidak baik bagi perkembangan jiwa mereka.

  5. Tidak mempunyai orang tua dan kebanyakan berasal dari luar daerah.

 

Mengingat usia mereka yang masih terlalu muda bahkan banyak yang masih usia Sekolah Dasar, maka kami dari Yayasan Anak teladan berpendapat bahwa anak-anak ini perlu segera dibantu dan dibina. Apabila hal ini tidak segera kami realisasikan, dikhawatirkan mereka akan tumbuh sebagai manusia-manusia Indonesia yang berperilaku merugikan diri sendiri dan masyarakat (anak-anak dan remaja perempuan menjadi pekerja seks, anak-anak dan remaja laki-laki menjadi pencopet, penodong, penjarah dan melakukan pekerjaan kriminal lainnya).

 

Atas dasar berbagai problema yang mereka hadapi dan menurut penilaian kami akan peluang yang masih terbuka bagi mereka, kami memutuskan dan segera bergerak untuk membantu anak-anak ini dengan cara memberikan kemudahan dalam mendapat pendidikan dan pengajaran termasuk pendidikan moral dan agama, melanjutkan pendidikan bagi mereka yang putus sekolah dan membekali anak-anak tersebut dengan pendidikan ketrampilan.

 

Dengan dibentuknya Yayasan ini diharapkan bisa menjadi wadah yang lebih luas bagi siapa saja yang mempunyai kepedulian dalam penyelamatan asset bangsa Indonesia dan pembinaan manusia Indonesia yang penuh kesejahteraan, tidak hanya pada lingkup Tanah Abang saja melainkan juga diharapkan dapat berkembang ke jenis usaha sosial lain dan wilayah jangkauan yang lebih luas.